Kegelisahan Dari Kemuliaan

Kepala kami adalah alamat kotak surat,

setiap saat beralamatkan semua pikiran.Tak ada daya menghalau pesan pesan teman, sanak family, rekan kerja, dari langit, dari bumi.

Sesekali kami menerima sighting menyegarkan dari kembara alam alam atas.- Dia mengetuk pintu.

Kasihan sekali melihat kenyataan ini, katanya…

Hampir tidak pernah ada kesempatan menyegarkan tubuh. Setiap waktu pintu diketok — masalah yang kami kira masalah kami– ohh… Itu menghabiskan tenaga – rasanya seperti tidak adil.

Masa lalu, kotak surat tidak seperti ini. Namun sekarang, materialisme mengajak paksa kami. Pendidikan mengacaukan kami. Kesempatan sosial membatasi jalan . “Hidup” meng-kerangkeng kami. Terlebih kata kata — terlalu licin untuk dikendarai. — makanan kami sehari hari.

Ohh..

Begitu banyak berhala disekitar kami. Sadar bahwa ini tidak mungkin !! tetapi ini niscaya.

Sehari hari…Jujur saja,

Pemerintah tak peduli kami.

Politik terlalu bagus untuk kami

Teknologi sekedar memiskinkan kami

Spiritual juga tidak berbeda.

Cara Ekonomi berlaku, tidak lagi murni.

Kami hilang dalam anonimitas pada ke-massif-an. Obat spiritual kacangan dijual terlalu mahal. Jarang sekali hal murah mengetok kami.– Belum lagi, dongeng surga neraka, Menggilakan kami.

Akhirnya kami larut dalam ketel panas buatan kami. Ini tragis, .. !! Ohh bukan … bukan..mereka tidak disini.. bukan di realm ini — jangan salah paham.

Kami belajar banyak hanya untuk menjadi tidak dipahami. — Bagaimana ini ..?

Kami juga ikut ikutan melewati D3 – S1 – S2 bermaksud menemukan sikap sejati. Ahh… Akhirnya kami berhenti. Ternyata hal itu, eksploitasi. Sungguh malang. Bagaimana ini ..?
nyatanya, Kami hirup asap obat nyamuk, hampir sama wangi kesturi. ..oh.. itu racun .

Namun rupanya “mereka” sadar kami raja kuat yang serba bisa. Hal ini sungguh menyiksa.
Kami eter yg terdampar disini. Di ambang kehampaan. Sekali kali kami memeriksa catatan akashic. Kalau kalau ada petunjuk.

Sebab dahulu kami seperti bulbul, bertengger di puncak puncak singgasana Atman.
Sekarang kami mirip perkutut, tiap hari bersiul, Diseberang kami lihat kawan, menyembah berhala, me-mantra udara, mengaduk bubur kata kata, meliurkan sabda langit, meniup air menjadi santan tua kental, dan siap pakai. — Sepertinya tidak ada yang paham.

Begitulah !..

kami sering bermain main di negeri koran ini. Setelah membolak balik, kami tidak mendapati halaman iklan “SPA” untuk kami. Sekedar kembali ke-diri kami. Sulit.. sangat sulit.

Pintu kami kekuning kuningan, ditempeli poster jamu agama penambah semangat. Poster pijat spiritual dan lain lain seperti itu. Kami tidak ingat lagi itu disablon dimana.

Poster itu seperti ajakan kembali, ternyata kami mau di daur ulang.

Ahh.. Kami seperti rombongan jelata padahal kami raja.

Suatu waktu, pintu kami diketok, surat melayang dari atas pintu, Wangi telur dadar tercium. Biasanya pertanda ini nampak berita bagus.– isinya sebuah tulisan ;

“mungkin disitu bukan tempat mu – kembali saja..!! “

Hah ? Cukup aneh, surat tanpa alamat maupun nama. yang pasti ini bukanlah ajakan nihilisme, seperti yang sudah sudah.

oh.. teringat beberapa waktu lampau ada yang mengatakan,- Hidup yg kamu katakan itu kematian, kematian kita sebenar-nyalah sebuah kehidupan

duh, Mungkin kotak surat ini ditutup saja … bagaimana ini ?

Kami terpaku… pura pura tidak tahu malu. Kami selalu takut .. sangat takut pada surat semacam itu dan.. yah begitulah

Semangat bait bait pesan untuk-Mu. Pesan ini dari Ibu yg Keinginan-Nya menjadikan kita selamat.

Ia selalu was-was kamu tak dapat.

Waktu keluar memandang, awan eter nampak tersenyum senyum.

Mungkin mereka lucu melihat sandiwara kami. Terasakan atmosfir humor, tetapi Kami timpali saja dengan senyum syahdu bibir tebal,
tak sadar disudut sana bibir kami bergerak gerak, sepintas mirip pantat ayam ditiup…
mmm… rupanya komat kamit sedang berdoa,
duh kami malu

Tanpa konsep, tanpa jeda, sibuk, selalu ada, tak bisa membedakan mana tidur mana terjaga. Padahal kami di ambang hampa.

eh…oya. jangan kepanjangan, nanti kamu lupa… lagipula

Maaf kami harus beranjak, melakukan kembali upacara bendera

Bersekolah dan cabut rumput, tidak lupa – filsafat. 😉

hanya ingin mengingatkan-Mu.– Salam.

Kawan lama-Mu,

Pikiran

Iklan

About galeter

- IT enthusias - Philosophy - Esoteric - Strange mind - Free'ology - Qoutes ; "..jika banyak belajar hanya untuk susah dimengerti orang..bukan berarti kita salah dalam semesta penciptaan.." Lihat semua pos milik galeter

6 responses to “Kegelisahan Dari Kemuliaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: